Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus untuk Bersiap Menuju Akhiratt

PicsArt_1423118041192

Judul – Penulis: 1. Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus – Yusuf Mansur
2. Bersiap untuk Akhirat – Arifin Ilham
Penerbit: Republika
ISBN: 978-602-8997-87-4
Jumlah Halaman: 1. Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus/viii+155 hal.
2. Bersiap untuk Akhirat/ x+168 hal.
Cetakan II: September 2014

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus

Dengan tagline Menomorsatukan Allah di Atas Segalanya dalam Keadaan Bagaimana pun dan Sampai Kapan pun, ustadz Yusuf Mansur mengajak kita untuk mendahulukan Allah dalam segala urusan. Menaruh Allah di nomor satu dalam segala aspek kehidupan.

Baiklah, mumpung masih diberi kesempatan, kembalilah bertuhan Allah. Sebenar-benarnya bertuhan Allah. Apa saja andalkan Allah, berharapn sama Allah. Bahwa kita bermuamalah, berdagang, bekerja berusaha, beikhtiar, semua hanyalah adab kita, akhlak, dan ibadah kita kepada Allah. Wallahu a’lam. (hlm. 4)

Seringkali kita sebagai manusia, lalai. Harta, anak dinomorsatukan. Padahal itu semua tidak ada artinya tanpa Allah. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat:

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat), yakni wanita wanita, anak anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (jannah). Katakanlah “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu untuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah? Pada sisi Robb mereka ada jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. mereka kekal di dalamnya dan mereka dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhoan Allah”. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya (Ali Imron : 14-15)

Dengan lima bagian: Cukuplah Allah, Hanya Perlu Doa, Berkhidmat kepada Al-Qur’an, Jalan Hidup Mulia, Indahnya Berjamaah. Di dalamnya sarat kisah yang penuh hikmah. Ada satu bagian yang paling menarik, judulnya 5+3 = -2. Kok bisa? Dicontohkan, semisal kita punya rezeki Rp 3 juta, lalu mendapat rezeki lagi Rp 5 juta. Dalam matematika manusia menjadi Rp 8 juta, tetapi di mata Allah akan beda jika yang Rp 5 juta itu kita dapat dari hasil yang haram. Maka sebenarnya jadi minus Rp 2 juta. Belum lagi kalau itu terjadi seterusnya, Ma syaa Allah, minusnya akan bertambah besar. Akan tambah minus jika dalam urusan lain kita juga melalaikan Allah. Naudzubillah.

Ya, kisah di atas hanyalah satu contoh. Masih banyak kisah lainnya. Bagian paling menarik bagi saya adalah ketika Ustadz Yusuf Mansur mengimpikan, jika negeri ini menaruh Allah dan Al-Qur’an di atas segala-galanya, maka jadilah negeri kita darurat kebaikan, darurat Al-Qur’an. Bukan lagi darurat korupsi, dosa dan maksiat.

Nasihat-nasihat yang ditulis sangat khas Ustadz Yusuf Mansur yang terkenal dengan da’wah sedekah dan hafalan Qur’annya. Ladang bisnis yang hendaknya memikirkan umat, berjama’ah dalam melakukan kebaikan, memimpin negara dengan menomor satukan Allah, bersama-sama menjadi hafidz dan hafidzah. In syaa Allah, niscaya negeri ini akan penuh keberkahan. Ma syaa Allah. Wallahu a’alam.

Bersiap untuk Akhirat

Tak ada kehidupan abadi selain di akhirat kelak. Dunia hanyalah persinggahan sementara. Tak beda dengan Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Arifin Ilham memberi tagline, Menomorsatukan Akhirat di Atas Segalanya dalam Keadaan Bagaimana pun dan Sampai Kapan pun.

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang-orang kafir), dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan’. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan, (QS. Al-Mukminun [23]; 99-100). (hlm. v)

Memupuk Keimanan, Menaklukkan Dunia, Menjaga Hati Beramal untuk Ahirat, Mencari Keberkahan,  Ukhwah dan Dakwah dan Bertaubat Sebelum Terlambat menjadi tujuh bagian dari judul ini.

Masing-masing juga dilengkapi dengan kisah yang penuh hikmah dan sarat nasihat. Salah satu kisahnya, Perempuan Yahudi yang buta yang selalu diberi makan oleh Rasulullah. Namun perempuan tersebut selalu menghina Rasul dan tidak tahu bahwa Rasul-lah yang selama ini memberi dan menyuapinya makan dengan lembut. Rasul tidak pernah marah apalagi membalasnya. Ia terus setia menyuapi perempuan Yahudi itu. Sampai saat Rasul meninggal, perempuan Yahudi baru mengetahuinya lewat Abu Bakar. Maka menangis dan menyesallahlah perempuan Yahudi tersebut karena belum sempat minta maaf dan berterima kasih pada Rasulullah. Padahal keluarganya tidak ada yang peduli padanya.

Ma syaa Allah. Rasul memang sebaik-baik teladan. Beliaulah yang memberi kita tuntunan lewat mukjizat yang diberikan Allah SWT yakni Al-Qur’an. Yang terjaga hingga akhir zaman. Dan memberi kita panduan bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara.

Bersegeralah mengharap ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan, juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 133-135) (hlm. 163-164) ((di sini terdapat kesalahan penulisan, dituliskan hanya ayat 133, seharusnya ayat 133 sampai dengan 135)).

Buku ini sangat unik sebab didesain seperti dua buku. Tetapi tidak membingungkan, malah saling terkait satu sama lain. Menaruh Allah di atas urusan segala-galanya untuk bersiap menuju akhirat. Are you ready? In syaa Allah 🙂

Islamic Reading Challenge 2015

Nonfiction Reading Challenge 2015

Yuk, Baca Buku Non Fiksi 2015

TBRR Pile Reading Challenge 2015

Iklan

9 thoughts on “Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus untuk Bersiap Menuju Akhiratt

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s