[Opini Bareng: Ekspektasi] Sering ‘Termakan’ Omongan

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Tahun 2015 jadi tahun pertama saya ikutan posting bareng BBI. Plus tahun pertama pula BBI ngadain sesi posting bareng opini *yippii*. Nah Januari ini temanya ekspektasi. Pas banget buat saya yang memang sering ‘termakan’ ekspektasi sendiri atau bahkan orang-orang. Yap. Apalagi terkait buku. Kalau ada bisik-bisik tetangga yang bilang, “Eh buku ini bagus lho.” “Ceritanya keren banget.” Langsung deh saya kepo. Tapi nggak ujug-ujug langsung beli juga. Biasanya saya bakalan cari-cari dulu, “Bener nggak sih buku ini bagus?” Dan patokan selanjutnya adalah Goodreads. Haha. Sudah nggak jadi rahasia lagi kalau pecinta buku nyaris selalu berpatokan di sana. 

Lalu apakah langsung beli? Belum. Masih ada tahap selanjutnya. Di sini uniknya. Kalau buku itu dibilang bagus dan ratingnya empat ke atas, saya bakal lihat dari sekian banyak review, ada nggak sih yang bilang buku ini kurang. Nggak mungkin dong ya ada buku yang bener-bener semua orang suka. Nah biasanya dari review yang ‘nggak membaguskan’ ini jadi lebih kelihatan sudut lainnya. Pernah nemu penulis yang katanya seleb tweet, rating bukunya bagus. Pas baca review salah satu orang mendadak saya kehilangan semangat yang tadinya pengen beli bukunya, eh nggak jadi. Ini dia lagi-lagi saya tipe mudah percaya sama orang hiks. Tapi kalau rating dan reviewnya seimbang baru deh saya beli -_-

Macem-macem sih rasanya setelah baca sendiri. Tapi seringnya buku yang memang dibilang bagus sama orang, bagus juga menurut saya. Meskipun ya beberapa nggak sesuai ekspektasi saya. “Ah apaan nih, bagus dimananya?” atau “Kok bisa sih buku begini dibilang bagus?” Jadi suka nyesel sendiri kalau sudah begini -_-

Lawannya, saya amat jarang beli buku yang menurut kebanyakan orang bilang jelek. Lagi-lagi saya berpatokan di goodreads. Nggak tahu ya, rating tiga ke bawah bikin saya nggak kepengen beli bukunya. Ekspektasi saya, “Pembaca kan lebih pinter menilai, kalau jelek ya buat apa dibeli? Sayang-sayangin duit aja. Tapi kalau dikasih ya nggak nolak. *plak!*

Ekspektasi selanjutnya biasanya datang dari penulis favorit. Halah namanya juga suka ya nggak mau ketinggalan. Langsung deh tanpa pertimbangan,. main beli-beli aja. Alhasil pas dinikmati, “Lho kok tumben begini?” atau “Nothing special. Nggak kayak biasanya. Biasa aja.”

Gitu deh jeleknya saya. Sampai sekarangpun masih suka terpengaruh ekspektasi. Mungkin ada benarnya, sudahlah nggak usah berekspektasi dulu sebelum baca dan nikmatin sendiri. Salah-salah malah kita yang jadi korban. Atau bisa jadi buku yang bagus malah kita tinggalin gitu aja -_-

Iklan

3 thoughts on “[Opini Bareng: Ekspektasi] Sering ‘Termakan’ Omongan

  1. Personal taste memang beda-beda ya, Mbak. Bagus untuk orang lain, belum tentu buat kita 🙂 Sering juga mengalami yang kayak gitu. Kalau soal penulis favorit, penulis favoritku memang dikit, jadinya acara berburu bukunya tidak terlalu sering ^_^

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s