Syabab: Gaul Syar’i

Photo0089

Judul: Syabab

Penulis: Paresma Elvigro

Penerbit: Qibla (Imprint BIP)

Penyunting: Dewi Widyastuti

Desain: Amanda Castilani

Penata Letak: Meita Safitri

Jumlah Halaman: 293+ix

Tahun Terbit: 2014

ISBN: 978-602-249-769-1

“Yang menyebabkan sebuah negara sukses tidak lain adalah PEMUDANYA.” (pengantar, hlm. vi)

Sebab gelora muda dan semangatnya yang masih membara, maka pemuda akan amat berpengaruh bagi kesuksesan sebuah negara bahkan dunia seperti kata Bung Karno,

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Namun sayang, banyak pemuda yang lalai akan tugasnya. Tawuran, pacaran, narkoba hingga mudah terbawa dengan teman-teman yang tidak baik. Syabab bukan hanya menghadirkan apa itu pemuda, tapi tentang menjadi pemuda yang sesungguhnya. Pemuda yang berlandaskan iman namun tidak ketinggalan zaman. Diulas secara urut mulai dari pengertian, pandangan pemuda dari segi psikologi dan kacamata Islam.

Dalam Islam, kata pemuda diambil dari kata “syabab”. Syabab atau pemuda dalam pandangan Islam bermakna kekuatan, baru, indah, tumbuh, dan awal dari segala sesuatu. (hlm. 1)

Menjadi salah satu kelebihan buku ini ialah background penulis sebagai lulusan terbaik dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, angkatan 2008. Sehingga buku tidak hanya dikemas dari sisi islami, melainkan keterkaitan dengan psikologi.

Dalam kitab Psikologi Kepribadian, tahap pemuda berlangsung dari pubertas sampai usia pertengahan. Tahap ini ditandai dengan meningkatnya kegiatan, kematangan seksual, tumbuh kembangnya kesadaran dan pemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anak-anak sudah hilang (Awisol, 2008). (hlm. 2-3)

Beberapa bab juga dilengkapi dengan kisah-kisah nyata inspiratif yang ditulis oleh beberapa kontributor. Tentang jatuh cinta, pacaran, berhijab hingga seorang pemudi yang mampu bertahan di tengah himpitan masalah.

Bab yang paling saya suka di buku ini ialah Law of Attraction. Hukum tarik menarik. Seringkali kita sebagai pemuda tergesa-gesa dalam berdo’a. Sampai tidak sadar bahwa terkabulnya do’a itu juga harus dibarengi dengan usaha. Semisal kita bisa menuliskan dengan detail atau mempublikasikan mimpi/keinginan kita. Agar semesta turut mengaminkannya. Selain itu, berdo’a juga mempunyai adab. Diantaranya, bertobat sebelum berdo’a dan menghadap sungguh-sungguh kepada Allah SWT, menghadap kiblat, menyebut dan memuji Allah SWT dan bersalawat atas Nabi Muhammad SAW, dsb.

Disayangkan, karena masih cukup banyak typo. Seperti kurang huruf atau spasi:

bagaimana cara selanjutnyauntuk – (selanjutnya untuk tidak dispasi) hlm. 26

berbicara mengenai kepribadia – (kepribadian kurang huruf N) hlm. 32

orangtua harus mengajarkan nilai-nila – (nilai kurang i) hlm. 53

kehamilan sampi – (sampai kurang huruf A) hlm. 95, dll

Kata asing juga ada yang tidak digaris miring:

target utama dari fashion – fashion (hlm. 56)

beragam style jilbab – style (hlm. 57)

lebih menyukai hangout – hangout (hlm. 76), dll

Banyak juga kata yang tidak pas untuk dipisah:

tidak ada salahnya ses-ekali (ses ditulis atas, ekali ditulis di bawah. Seharusnya bisa dipisah jadi sese-kali) hlm. 76

apalagi dilece-hkan (dilece ditulis di atas, hkannya ditulis di bawah. Seharusnya bisa dipisah jadi dileceh-kan) hlm. 76

kebetulan naman-ya (naman ditulis di atas, ya ditulis di bawah. Seharusnya bisa dipisah jadi nama-nya) hlm. 93, dll

Dan ada masih ada beberapa kata yang salah, kurang atau penempatan hurufnya tidak pas. Mungkin ini bisa jadi perhatian penulis dan editor untuk ke depannya 🙂

Di luar kekurangan-kekurangan itu, masih banyak bab-bab yang sayang jika dilewatkan. Dan rasanya pemuda yang lain juga harus membaca buku ini agar tidak terjerumus ‘ganas’nya zaman yang saat ini cukup miris dengan berbagai kejadian dan berita-berita tidak meng-enakkan.

Kutipan menarik yang saya suka:

Kegalauan itu muncul ketika seseorang merasa tidak mampu menyelesaikan krisis tersebut ataupun penyelesaian krisis yang tidak sesuai dengan harapan. (hlm. 4)

Perangilah hawa nafsu sebelum hawa nafsu itu mencekikmu. – @de_Paresma (hlm. 43)

“Orang yang menyakiti dan melukai saya sebenarnya sedang menunjukkan kecintaan dan kepeduliannya pada saya. Sebab, orang yang jahat pada saya terkadang jauh lebih peduli daripada orang yang sudah saya kenal baik selama bertahun-tahun.” (hlm. 51)

Ingatlah, menghindar hanyalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak menghargai waktu. (hlm. 141)

Aneh memang. Manusia berharap dapat mencium dan mengetuk pintu surga. Tapi, mereka masih saja condong pada keindahan sandiwara dunia yang menyesatkan. – @de_Paresma (hlm. 143)

Andai harta dapat dibawa mati, apakah pemakaman di dunia akan cukup menguburnya? – @de_Paresma (hlm. 190)

Kebaikan itu tak punya kaki sehingga tak bisa jalan sendiri. Kebaikan itu perlu diupayakan. Dan, mesin penggerak untuk melakukan kebajikan adalah hati dan akal. (hlm. 267)

Pemuda salah gaul? Udah nggak zaman lah ya 🙂

Islamic Reading Challenge 2015

Nonfiction Reading Challenge 2015

2015 TBRR Pile a Reading Challenge

Iklan

10 thoughts on “Syabab: Gaul Syar’i

  1. hehe iya Ade, pas bukunya jadi, saya baca lagi banyak typo..
    haha ternyata gak hanya aku yg merasakan. kudu self editing lg yg getol nih
    utk kata yg pisah-pisah itu sy juga gak tau kok bs gt, mungkin saja editornya bermaksud ngepasin… aneh juga sih dipisahin hehe

    makasih ya ade
    cukup detil jg..

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s