Cinta/Pergi: Pergi atau Menetap

CYMERA_20141003_090329

Judul buku : Cinta/Pergi

Penulis : Herjuno Tisnoaji

Editor : Dedik Priyanto

Pendesain sampul : Henz Sinelir

Penerbit :  Moka Media

Cetakan Pertama, 2014

Tebal : iii + 181 hlm.

ISBN: 978-979-795-864-0

“Aku lagi bikin novel, dan, rencananya mau bikin tokoh utama seorang berandalan. Karena itu, kamu mau, ya, jadi subjek pengamatanku? Mau, ya? Harus!” (hlm. 5)

Rei, seorang cowok yang terkenal sebagai berandalan di sekolah membuatnya jadi bahan percobaan novel yang akan ditulis Florina. Meski sempat risih karena terus dibuntuti, namun lima hari setelah pertemuan mereka, Rei memilih berdamai dengan Flo dan menerima tawarannya. Baginya ini justru kesempatan agar ia tidak lagi ‘dibuntuti’.

Seminggu waktu yang dijanjikan Rei pada Flo. Seminggu itu pula ia takkan ingkar janji karena ia tahu rasanya dibohongi. Ingat dengan ayahnya yang selalu mengingkari janji dan membuat ibunya pergi dari rumah.

Sedari kecil, aku sudah merasakan bagaimana kebohongan-kebohongannya yang melenakan, yang telah membuatku kehilangan segalanya; keceriaan, tawa dan hal-hal lainnya yang membuatku muak. (hlm. 7)

Kian hari, hubungan Rei dengan sang ayah semakin memburuk. Rei pergi dari rumah dan satu-satunya tempat yang ia punya saat itu hanyalah Flo.

-x-

Sebelum baca novel ini, saya sudah lebih dulu membaca review di blog lain dan Goodreads. Mengetahui begitu banyak kekurangan membuat saya tidak terkejut lagi. Meski saya akui, saya tetap terganggu dengan beberapa kesalahan ejaan, tanda baca dan typo. Ambil saja salah satunya kutipan di atas. Menurut saya terlalu banyak koma. Sekiranya bisa dijadikan seperti ini saja:

“Aku lagi bikin novel dan rencananya mau bikin tokoh utama seorang berandalan. Karena itu, kamu mau ya jadi subjek pengamatanku? Mau ya? Harus!” (hlm. 5)

Mungkin ini bisa jadi perhatian penyunting untuk ke depannya.

Di luar itu, saya suka dengan covernya. Smooth dan kalem. Ah ya, saya juga suka filosofi bunga wijaya kusumanya. Ini jadi pengalaman baru buat saya 😀

“Itu bunga langka. Warnanya putih, bersih. Bunga ini hanya mekar di malam hari dan cuma hidup beberapa jam.”

Seperti ini nih penampakkan bunganya:

JohannesWijayaKusumaFlowerDutchmansPipeNightBloomCereus
credit

Nama latin tumbuhan ini adalah Epiphyllum oxypetalum. Namun ada juga yang menganggap nama latin wijayakusuma adalah Epiphyllum anguliger. Keduanya spesies yang berbeda namun memiliki ciri-ciri yang hampir serupa. Hanya bentuk daun E. anguliger berlekuk-lekuk, sehingga kerap disebut juga sebagai ‘kaktus balung iwak’.

sumber: alamendah.org

Selain itu, menariknya di tiap pergantian bab dalam buku ini diberi kutipan-kutipan orang terkenal.

Photo0057

Photo0059

Photo0063 Banyak juga kutipan yang saya suka:

Bagiku, lelaki jantan adalah yang bisa menjaga komitmen dan perkataannya. (hlm. 14)

“Masa remaja itu singkat Rei. Seperti halnya bunga wijaya kusuma yang hanya mekar sebentar saja. Dan pada masa yang singkat itu, kita seiring menemukan diri kita berjalan tanpa arah.” (hlm 49)

Usia akan selalu berkurang, tapi setidaknya, di usia yang pendek tersebut manusia harus bisa bersinar seterang mungkin, bahkan di kegelapan. (hlm. 89)

Jangan gunakan masa kini untuk masa lalu, tapi gunakan masa lalumu untuk masa kini.” (hlm. 114)

“Mungkin kamu punya permasalahan di masa lalu, tapi, jangan sampai masalahmu itu membuatmu nggak bisa ngejalanin hidup di masa kini (hlm. 114)

Isu yang diangkat dalam cerita mengangkat masalah kekinian yang bisa jadi dialami remaja lainnya. Akibat keretakan rumah tangga orang tua, membuat sang anak melampiaskan pada hal-hal buruk semacam tawuran seperti yang dilakukan Rei. Selain itu, penting bagi orang tua untuk tidak meremehkan janji sekecil apapun pada anak. Sebab anak akan merekam apa yang dia alami dan membuatnya menjadi orang yang mudah curiga dan tidak percaya pada orang lain.

Ada kalanya cinta hadir dan tumbuh di dalam hati seseorang. Namun, ada kalanya pula cinta pergi meninggalkan hati seseorang. Beberapa cinta yang pergi akan hilang, sementara beberapa yang lainnya akan menetap. (hlm. 172)

Iklan

2 thoughts on “Cinta/Pergi: Pergi atau Menetap

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s