La Tahzan for Hijabers: Perjuangan Menuju Ketaatan

Photo0014

Judul: La Tahzan for Hijabers

Penulis: Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, dkk

Penerbit: Asma Nadia Publishing House

ISBN: 978-602-9055-14-6

Cetakan Kedua: Mei 2013

Jumlah Halaman: xxiv + 280 hlm.;20,5

Photo0019

Tak terbayang rasanya jika kita (lebih tepatnya diri saya sendiri) masih mengalami situasi dimana jilbab/kerudung masih menjadi momok yang ‘menakutkan’. Berbagai kisah dalam buku ini menceritakan betapa sulitnya keinginan untuk taat pada perintah-Nya. Di tengah larangan pemerintah zaman 80-90an, anggapan tentang aliran sesat hingga dukungan keluarga yang teramat dibutuhkan malah tidak didapat.

Di dalamnya terdapat dua puluh kisah yang cukup menguras emosi.

Photo0015

Salah satu kisah yang paling berkesan bagi saya, Perjalanan Panjang Sebuah Hijab yang ditulis Novia Syahidah. Menceritakan perjuangan seorang temannya, Syariifatus Salma dalam berhijab yang menuai konflik dengan keluarga besarnya.

Pekerjaan Syarifa sebagai juru masak di sebuah pondok pesantren, memberinya kesempatan untuk bersekolah. Namun dengan satu syarat, ia harus meminta izin tokoh masyarakat di kampung asalnya. Sayang, bukan izin dari ustadz yang didapat, ia malah dituduh terkena aliran sesat bahkan oleh keluarga besarnya sendiri, ibunya pun tak berkutik.

Saat kembali ke ma’had keluarga menjemputnya secara paksa. Dan ia dikirim ke Surabaya dan bekerja di rumah orang Cina. Hanya tiga bulan ia bertahan di sana, tak tahan karena dilarang mengenakan jilbab. Ia pun memilih pulang kampung. Di sana ia bertemu dengan seorang ibu yang menawarkannya untuk bekerja di rumah temannya di Ciputat.

Delapan bulan bekerja, tepat bulan Ramadhan ia kembali ke kampung dan bertekad untuk kembali ke ma’had usai lebaran untuk belajar. Setelah genap setahun, ia kembali pulang kampung. Lagi-lagi usaha keluarga besarnya untuk membuatnya mau melepas jilbab belum usai. Ia dijodohkan dengan seorang lelaki yang juga tidak menyukainya mengenakan jilbab. Bisa ditebak, ia menolak dan memilih kembali ke ma’had dan menceritakan masalahnya. Atas dasar nasihat pihak ma’had, berbekal roti dan uang sepuluh ribu, ia berangkat ke Jakarta dan bekerja pada seorang ustadz yang berasal dari Timur Tengah.

Masalah baru muncul ketika keinginannya belajar di Lembaga Tahfidz Qur’an tidak mendapat izin dari sang ustadz dan istrinya. Ia pun memutuskan keluar dari pekerjaan dan memilih masuk LTQ. Belum usai masalah rupanya. Saat menumpang di tempat kos saudara ustadznya di ma’had dulu, ia dituduh mencuri. Akhirnya ia keluar dari tempat kos tersebut dan dibawa ke rumah seorang temannya. Untunglah di sana, Mbak Aulia dan keluarganya berjilbab. Sehingga ia tak mendapat kesulitan. Begitulah masalah demi masalah seolah tak ada habisnya. Namun perjuangannya untuk tetap mengenakan jilbab rasanya pantas mendapat balasan setimpal dari Allah SWT.

Masih banyak kisah-kisah dari penulis lainnya yang tak kalah mengharukan. Jatuh bangunnya untuk teguh mengenakan jilbab, mengingat kembali momen masa lalu saat pertama kali berjilbab hingga hidayah Allah yang menuntunnya mengenakan jilbab.

Kisah yang saya alami nyaris serupa. Tapi bukan sulitnya pertama kali mengenakan jilbab, justru kesulitan hadir saat saya memutuskan untuk mensyar’ikan hijab. Lanjutnya bisa dibaca di sini 🙂

“Kalau kamu merasa belum siap, maka sampai kapan pun nggak akan pernah merasa siap. Bahkan, yang sudah berjilbab pun masih terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Bukan berarti yang berjilbab itu sudah baik dan sempurna.” (hlm. 75)

Pastilah semua langkah itu ada rintangannya, tapi kalau kita yakin itu benar, pertolongan dan balasan-Nya jauh lebih hebat dari yang diperkirakan. (hlm. 108)

“Nggak ada kata percuma untuk sebuah kebaikan.” (hlm. 113)

“Harusnya para perempuan itu sadar siapa yang memberinya rezeki, dan siapa yang mewajibkannya menutup aurat. Kalau mereka yakin akan kuasa-Nya, maka tak perlu takut tak kebagian rezeki karena berjilbab.” (hlm. 157)

“Ketika kita berjilbab, maka kualitas dalam diri kita tingkatkan hingga akan mencantikkan kualitas di luar. Lipstik kita adalah kalimat manis tanpa cela pada orang. Bedak kita adalah aura yang memancar dari kebersihan jiwa kita.” (hlm. 221)

Di akhir buku ini kita akan mendapat penjelasan tentang mahrom. Tentang siapa saja yang boleh melihat kita saat berjilbab.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Kalau sudah jelas perintahnya, lantas menunggu apalagi?

Photo0028

Mumpung usia masih diberi dan selama nafas masih ada. Bukankah dengan hijab kita akan lebih terjaga.

Photo0016

Hijab bukanlah bentuk kesempurnaan, ia bentuk ketaatan kita sebagai wanita untuk taat menjalankan perintah-Nya.

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s