Seribu Malam untuk Muhammad: Sebuah Pencarian Panjang

Photo0336

Judul: Seribu Malam Untuk Muhammad

Penulis: Fahd Djibran

Penerbit: Kurniaesa Publishing

Cetakan Ketiga: Februari 2012

ISBN: 978-602-99349-7-7

“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?”

Dimulai tanggal 29 Maret 2008, mimpi itu hadir dari seorang pria non muslim yang bertemu Nabi Muhammad. Mimpi yang membawanya pada sebuah pencarian panjang tentang sang Baginda. Itu semua ia ceritakan lewat sebuah surat pada kekasihnya, Azalea. Dua tahun masa pencarian itu, selama itu pula ia melakukannya sendiri. Meninggalkan kekasih yang sungguh dicintainya.

***

Ini adalah buku yang membuat saya cukup tertegun lama. Tak jarang sesak di tenggorokan. Air mata yang tak lagi bisa ditahan. Sebesar apa rasa cinta kita pada Nabi Muhammad? Mungkin pertanyaan tersebut tepat untuk menggambarkan apa – yang ingin digambarkan dalam buku ini. Kalau awalnya saya mengira surat ini hanyalah fiksi karangan Fahd Djibran, rupanya saya salah. Surat sepanjang 100 halaman ini adalah nyata. Benar-benar dialami oleh seorang pria non muslim. Ya, non muslim. Dan ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Subhanallah.

Menurut Abu Hurairah, seseorang yang meriwayatkan hadits ini berdasarkan perkataan Muhammad sendiri, “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya Setan tak dapat menyerupaiku.” (hlm. 33)

Si “Aku” menceritakan kisah mimpinya cukup panjang. Debaran dada dan perasaan yang sulit dijelaskan saat pertama kali bermimpi, meyakini bahwa yang hadir di mimpinya adalah benar sosok Nabi Muhammad, pencarian panjang dengan bertanya pada banyak sumber, membaca ratusan buku yang membahas tentang Muhammad. Sampai-sampai menceritakan berbagai kisah Nabi Muhammad tentang betapa beliau dicintai begitu banyak orang. Bukan saja muslim, semua umat beragama mencintainya sebab kebaikannya.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.” (hlm. 8)

Barangkali surat ini adalah sebuah pengemasan baru. Dan mungkin semacam ‘teguran’ bagi kita umat Islam. Sudah seriuskah kita dalam beragama. Meneladani sang Baginda pembawa wahyu pertama dan cahaya bagi semua umat? Berapa banyak dari kita yang berharap bertemu dengannya? Berusaha menjalani berbagai ritual agar dapat tercapai meski hanya dalam mimpi. Cuplikan puisi Aku Ingin Tahu karya Camelia Bader ini cukup menjadi renungan:

Aku Ingin Tahu

Bila Nabi Muhammad Saw., datang mengunjungimu, barang sehari atau dua hari. Bila tiba-tiba Rasulullah kita itu datang tak disangka-sangka, aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan?

Apakah kau akan menyediakan ruanganmu yang terbaik, bagi tamumu yang terhormat itu, Muhammad Rasulullah Saw., dan kau meyakinkannya bahwa kau sangat-sangat senang dikunjung olehnya. Melayaninya adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa. (hlm. 170)

Selanjutnya bisa dibaca dalam buku ini.

Jadi, mengapa kebaikan lebih utama daripada keimanan? Sebab iman hanya berdampak bagi dirimu sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh semesta (hlm. 116)

Sebuah buku yang sarat perenungan dan pencarian panjang tentang kerinduan pada sang Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli wa salim wabarik ‘alaih.

Iklan

2 thoughts on “Seribu Malam untuk Muhammad: Sebuah Pencarian Panjang

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s