Spora: Bukan Horor Biasa

Photo0312

Judul: Spora

Penulis: Alkadri

Penyunting: Dyah Utami

Penyelaras Akhir: J. Fisca

Ilustrasi Sampul: Fahmi Fauzi

Ilustrasi Naskah: Diani Apsari

Penata Letak: Tri Indah Marty

Penerbit: Moka Media

Jumlah halaman: vi+238 hlm

ISBN: 979-795-910-4

Blurb:

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci. 
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
 
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
 
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
 
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
 
Sesuatu yang 
 diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.

***

Kepulangan Tim KIR dari sebuah konferensi ilmiah di Brazil menjadi awal mula kisah ini. Bukan, bukan kepulangannya, melainkan sebuah stoples bening, dengan kaca tebal, dan sesuatu yang tampak seperti cairan putih kekuningan di dalamnya yang – dibawa oleh entah siapa – ternyata membawa masalah baru di sekolah.

Sesosok mayat ditemukan pertama kali oleh Alif. Kematian mengerikan yang tidak diketahui siapa pelakunya. Sialnya, itu justru menjadi awal. Korban demi korban terus berjatuhan dengan cara yang sama. Kepala pecah berkeping-keping. Lebih sial bagi Alif, karena selalu ia yang pertama kali menemukan. Hal ini membuat polisi sempat mencurigainya terlibat dalam rangkaian kematian itu.

Spora menjadi novel genre horor pertama yang saya baca. Akhirnya, rasa penasaran saya akan genre ini terjawab sudah hehe dan novel ini memang cukup menegangkan. Apalagi cerita setiap kematian yang begitu mengerikan jika dibayangkan >_< Meski alur agak lambat di bagian awal dan prolog yang – menurut saya – agak kepanjangan tapi setiap bab yang disuguhkan sukses membuat saya penasaran hingga akhir.

Photo0326 Photo0328

Ilustrasi di setiap awal cerita novel ini, semakin menambah kesan horor. Dan dongeng kurcaci yang awalnya sempat saya tak mengerti, ternyata berkaitan dengan setiap cerita di dalamnya. Apa kaitannya? Silahkan dibaca sendiri.

Sayangnya, masih ada beberapa catatan. Pertama, bahasa yang digunakan beberapa kali sempat membingungkan. Terkadang baku, untuk selanjutnya tidak baku. Kedua, banyak terjadi inkonsistensi, seperti Alif yang awalnya memanggil ibunya Mama, namun jadi Ibu untung saja seterusnya jadi Mama lagi alias tidak berubah lagi hehe. Lalu disebutkan di awal kelas sepuluh, sebelas, namun di tengah menjadi kelas dua. Ada lagi soal panggilan ibu Alif yang memanggil Alif di awal, Alif namun sempat ganti menjadi Dek. Mungkin ini bisa menjadi perhatian penulis dan editor untuk selanjutnya 🙂

Selebihnya, saya cuma bisa bilang novel ini bukan horor yang mengangkat tema setan, melainkan hal yang sangat tidak biasa atau mungkin belum pernah diangkat dalam novel Indonesia. Maklum, selama ini belum pernah baca genre horor 🙂 Dan hmm sepertinya penulis harus bertanggung jawab dengan banyak hal yang masih menggantung dan belum terjawab *upz* Lalu apakah Spora akan ada sekuelnya? Kita tunggu saja.

Iklan

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s