Seribu Wajah Ayah: Mengenang Sosok Ayah

IMG_20141111_082751

Judul: Seribu Wajah Ayah

Penulis: Azhar Nurun Ala

Penyunting: Abdullah Ibu Ahmad

Penerbit: Azharologia

Karena cintanya adalah pancaran cahaya – tak kan berhenti hanya karena kau menutup jendela.

Ada sepuluh foto di sana. Yang membawanya pada kenangan lama. Kenangan yang mungkin tak pernah bisa kembali. Cerita seorang anak yang ditinggalkan ibunya ketika melahirkannya dan hanya dibesarkan oleh seorang ayah. Ayah yang kuat, yang begitu mencintai ibunya hingga sosok seorang ibu juga ada dalam dirinya – seperti dalam puisinya yang ditulis saat kelas tiga sekolah dasar.

Ibuku adalah ayahku

Ayah membesarkanku seorang diri

Seperti matahari

Ayah memberikan cahaya untuknya

(hlm. 139)

Dan ayah yang juga amat mencintai dirinya karena memang ia lah satu-satunya. Ayah yang selalu memberi pemahaman kehidupan, membesarkannya dengan penuh kesabaran. Hingga tak dirasa, ia beranjak dewasa.

Diceritakan dengan sudut pandang orang kedua, barangkali buku Azhar yang ketiga ini bisa menjadi pengingat. Azhar mengajak kita kembali merenungkan seberapa besar cinta kita pada ayah. Pada sosok yang jarang menampakkan kelelahannya. Haru bahagianya, kesedihannya serta sosok yang selalu tampak kuat meski kita tak pernah tahu dalam hatinya. Ya, Azhar sukses membuat saya menitikan air mata karena terbawa situasi. Mengingat-ingat kembali berapa kali saya mengabaikan ayah. Tak terhitung dosa mengecewakannya. Lupa membahagiakannya sampai tak tahu cara mengungkapkan cinta padanya.

Bukankah baru terasa jika kehilangan mulai menimpa? Allah, mudah-mudahan kita dijauhkan dari segala macam penyesalan. Belajar mensyukuri kita yang masih merasakan sosok ayah. Atau coba lihat nanar pada mereka yang justru tak pernah merasakan kasih sayang ayah. Yang rindu sampai lupa seperti apa rasanya. Setiap episode kehidupan memang harusnya disyukuri, agar tak lalai dan menyesal.

Banyak sekali kutipan yang saya suka dalam buku ini. Tapi akan saya bagi yang paling berkesan.

Setiap manusia punya hati nurani yang selalu bersuara. Sebagian kita mendengarkan dan mengikutinya, sebagian mendengarkan lalu melupakannya begitu saja, sebagian lagi menutup telinga. Kita bisa lakukan apa saja, tapi hati nurani akan tetap bersuara. Sayangnya, dunia ini sudah semakin bising. Terlalu banyak hal seru yang bisa dibicarakan di dunia ini, yang mengalihkan kita dari mendengar nurani kita sendiri. (hlm. pengantar)

Menjadi guru adalah tentang pengabdian, bukan sekedar soal gaji atau bonus tahunan. (hlm. 24)

Manusia terlalu sering mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah terang benderang hanya untuk mendramatisasi kelemahannya, atau kadang, untuk memamerkan betapa kritis dirinya. Merasa terlalu lemah atau terlalu kuat, keduanya selalu menjauhnya kita dari pengakuan atas kebenaran, meskipun itu telah nyata di hadapan. (hlm. 33)

Tak ada cinta sejati tanpa kemantapan hati dan kemampuan. Mereka yang berkata ‘Aku mencintaimu’ dengan hati yang mantap tapi tanpa kapasitas yang mumpuni untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan, hanyalah para perayu – kalau bukan pembual. Mereka yang memiliki kemampuan tapi tak mantap hatinya adalah peragu. (hlm. 45)

Rumah hanyalah bangunan mati yang bisu dan dingin tanpa orang-orang yang kita cintai di dalamnya. (hlm. 51)

Kita memohon untuk ditunjukkan jalan yang lurus berkali-kali setiap hari, tapi kita menutup mata. Adakah hal yang lebih tolol dari ini? Seperti kau yang meminta orang yang baru kau kenal untuk mengenalkan dirinya, tapi ketika ia mulai bicara kau justru menutup telinga. Tentu saja – setidaknya dalam hati – dia begitu ingin menamparmu. Kau mau ditampar Tuhan? (hlm. 55)

Kita memang kadang perlu menjadi buta dan tuli. Buta dari ketakutan-ketakutan yang tak semestinya, tuli dari bisikan atau teriakan yang melemahkan. (hlm. 77)

Sebab jejak terlanjur terpacak. Terlalu lama menengok ke belakang membuat lehermu pegal. Nafasmu tersengal. Kamu jadi mudah lelah, jadi mudah gundah.
Jejak terlanjur terpacak. Ada bekas yang sudah tak bernafas. Takkan hilang sejauh apa pun kamu coba buang. Hanya akan jadi samar ditelan waktu: sedikit terlupakan. (hlm. 157)

Semoga dimanapun ayah, beliau selalu kuat dan sehat. Serta untuk ayah yang lebih dulu meninggalkan kita, selalu ditempatkan di sisi terbaik-Nya.

Iklan

3 thoughts on “Seribu Wajah Ayah: Mengenang Sosok Ayah

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s