LDR: Bagaimana dengan Jarak?

IMG_20141110_105718

Judul: #CrazyLove: LDR

Penulis: Ayuwidya, Elsa Puspita, Christina Juzwar, Anjani Fitriana, Riawani Elyta

Penerbit: Bentang Belia (PT. Bentang Pustaka)

ISBN: 978-602-7975-72-9

Tahun Terbit: Cetakan Kedua, Februari 2014

Bagaimanapun ditiadakan, jarak tetap ada. (hlm. 12)

LDR ini merupakan salah satu dari seri #CrazyLove. Ditulis oleh lima orang dengan gaya – yang baru saya sadari bahwa ternyata ini bisa dibilang – novelette, lebih panjang dari cerpen, lebih pendek dari novel.  Dengan lima cerita yang berbeda namun satu benang merah masing-masing tokohnya menjalani Long Distance Relationship dengan pasangannya.

Chococerry Chocolate – Ayuwidya

Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama. Bermula dari Carlo yang sedang berusaha untuk mendapatkan motor sport lewat undian berhadiah dari bungkus Chococerry Chocolate  tidak mempercayai hubungan jarak jauh yang dibangun sahabatnya Salsa dengan sang pacar, Marvel. Salsa pun berusaha dengan keras membuktikan kalau keraguan Carlo pada hubungannya dengan Marvel tidak benar.  Meski akhirnya Salsa mulai ikut meragu dan mempertanyakan pada dirinya sendiri, apakah Marvel ‘baik-baik saja’. Apalagi jika membahas fisiknya yang ‘lebih’ sedang Marvel berbadan sesempurna instruktur.

Hal ini membuat Salsa berjuang dengan menyusul Marvel ke Bali. Lantas apa yang ia dapat di sana?

“Menjalin hubungan jarak jauh itu harus saling percaya. Kalau enggak, kita cuma buang-buang waktu, karena pada akhirnya, kita tidak hanya nggak satu tempat, tapi juga nggak satu tujuan. Kita akan benar-benar jalan sendiri-sendiri. Kamu mau begitu?” (hlm. 4)

Kutipan menarik di cerita ini:

“Kalau cuma ketenangan, lo bisa dapatkan dari siapapun, bahkan dari benda mati, tapi cuma dari sahabat lo bisa mendapatkan kejujuran,” (hlm. 10)

Menempuh jalan yang salah membuat kita tahu mana jalan yang benar. (hlm. 40)

Ada juga filosofi yang menarik:

Kalau seorang cowok memilih duduk di depanmu, artinya ia masih berada dalam tahap menakarmu, melihatmu dan menilaimu. Kalau dia memilih kursi di sampingmu, ia sudah berada dalam tahap yang menginginkan untuk selalu dekat denganmu. Tak perlu lagi melihat bagaimana kamu. (hlm. 24)

Smiles – Elsa Puspita

Empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar, tapi mungkin keberhasilan Arine dan Biru menjalani LDR antara Malang dan Jakarta patut diperhitungkan. Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga dan alur maju dan mundur di pertengahan untuk menjelaskan kisah LDR mereka yang – sama seperti lainnya – tak jarang dipenuhi pertengkaran namun akhirnya berhasil mereka lewati.

Kedatangan Arine di Jakarta yang berniat memberi kejutan pada Biru  justru mendatangkan kabar yang malah balik mengejutkan dirinya. Kecerdasan Biru membuat robot membawanya pada tawaran beasiswa sekaligus magang ke Jepang. Bagaimana dengan Arine? Sanggupkah ia menerima dan menjalankan LDR (lagi)?

Kutipan menarik di cerita ini:

Hubungan model gitu (baca: LDR) lama-lama cuma ngehasilin hubungan semu. Nggak nyata. Kayak cuma pacaran sama gadget. (hlm. 59)

Haha nggak tahulah buat saya ini ada benernya 😀

Sebuah hubungan itu seharusnya saling ngasih sayap biar bisa terbang sama-sama. Bukan ngerampas salah satu sayap. (hlm. 77)

Don’t Stop Believing – Christina Juzwar

Mengambil sudut pandang berbeda, Anna dan Oscar. Menceritakan tentang mereka yang bertemu lewat jejaring sosial Facebook, saling mention di Twitter, hingga berlanjut ke BBM, lalu Skype. Hingga membawa mereka pada hubungan jarak jauh. Kecocokan satu sama lain membuat mereka ‘nyambung’. Selera Anna dengan TV series Glee juga Oscar yang suka nonton serial televisi seperti Law and Order atau CSI.

Sampai pada saat perayaan hari jadi mereka, Anna ingin memberikan kejutan pada Oscar. Siapa sangka ternyata Oscar juga ingin memberikan kejutan yang sama. Anna ke Bali untuk menemui Oscar, sementara Oscar ke Jakarta ingin menemui Anna. Akankah perbedaan tempat itu membuat mereka bertemu?

Cerita ini cukup mengingatkan saya pada kisah saya dulu >_< Hidiiih. Okeskip.

Insperable – Anjani Fitriana

“Kamu kok, tumben sih, ngajakin aku main seharian gini?” (hlm. 116)

Astri belum tahu bahwa ternyata Raka hanya ingin memanfaatkan sisa waktunya sebelum ia harus pergi meninggalkan Indonesia dan melanjutkan studi ke Jepang. Tentu saja awalnya tidak mudah bagi Astri untuk menerima apalagi ini sudah beda negara. Tapi ia tak punya pilihan, ia merasa Raka lebih butuh dukungan. Dengan berat hati akhirnya ia melepas Raka ke Jepang.

Selama di sana mereka berkomunikasi via Skype. Raka sengaja berjuang keras selama di Jepang agar nantinya bisa lebih cepat bertemu Astri. Hingga akhirnya tiga tahun berhasil ia lewati dan tentu saja ia bisa langsung pulang dan menemui Astri. Namun naas, pesawat yang ia naiki, jatuh di pegunungan daerah Bali akibat cuaca buruk. Lalu bagaimana dengan Arine yang juga telah bersiap menerima kedatangannya? Benarkah Raka ….. ?

Kutipan menarik:

Things change, friends, people around us, people who we loved, leave. And life doesn’t stop for anybody. Seseorang yang pergi nggak harus ngeberhentiin kehidupan lo juga. (hlm. 139)

Ada satu kesalahan di sini. Inkonsistensi sudut pandang. Di awal diceritakan dengan kata ganti orang pertama. Namun di bagian selanjutnya justru menjadi kata ganti orang ketiga. Hmm. Untungnya bingung saya tidak lama. Karena di bagian selanjutnya lagi diganti jadi kata ganti orang pertama. Lain kali harus dibedakan ya gaya tulisannya agar pembaca tidak bingung hehe.

Rancho – Riawani Elyta

Jujur dari semua cerita di atas, saya paling nunggu cerita dari penulis yang satu ini. Penulis yang – saya tahu – sudah banyak menerbitkan buku. Aah, saya slalu tergoda membaca tulisan-tulisan penulis yang banyak dibicarakan orang 😀

Rancho, nama aslinya Ryan. Dipanggil Rancho hanya agar terdengar macho saja. Mengambil setting tahun1997-1998 saat pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya harus menjalani LDR selama sepuluh tahun. Taruhan yang ditawarkan Rancho yang membuat mereka menjalani hubungan itu. Orang tua Melvina tak mampu lagi membiayai kuliahnya di Singapura, mau tidak mau ia harus kembali ke Indonesia. Krisis moneter dan demo besar-besaran yang terjadi saat 1998 tentu saja membuat Melvina kesulitan apalagi untuk sekedar membuka internet demi mengecek email-email yang dikirim Rancho.

Apakah akhirnya Melvina berhasil bertemu dengan Rancho setelah sepuluh tahun jarak memisahkan mereka?

Sayangnya di cerita ini saya agak dibuat bingung dengan email yang masih bisa dibuka. Padahal setahu saya email ada jangka kadaluarsanya. Jika dalam berbulan-bulan tidak dibuka harusnya tidak bisa dibuka kan? Tapi di cerita ini Melvina akhirnya bisa membaca ratusan email yang dikirim Rancho. Ehm. Entahlah 😀

Meski begitu, masih ada kutipan menarik:

Hidup adalah petualangan. Kalau semua berjalan sesuai rencana, di mana serunya? (hlm. 175)

-x-

Bisa dibilang buku LDR ini jadi kali pertama lagi saya baca novel fiksi jenis teenlit setelah hmm tiga tahun lebih banyak berkutat dengan buku-buku yang ‘lebih berat’ *tsah* faktor U kali ya upz. Nggak seperti dulu saat masih sekolah, saya memang lebih menyukai teenlit. Sebab bahasa yang ringan dan cerita yang memang meremaja sekali. Tapi sebenarnya buku ini tidak bisa dibilang teenlit banget sih, yah mungkin bisa dikategorikan young adult. Sebab tokohnya yang rata-rata mahasiswa dan ada adegan yang menurut saya memang lebih pantas dibaca oleh 18+ 🙂

Saya juga punya kutipan tentang LDR:

Jarak bukan tentang tempat dan waktu. Tapi tentang memanfaatkan situasi dengan baik dimana dan kapanpun kita berada. – ADP

Iklan

2 thoughts on “LDR: Bagaimana dengan Jarak?

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s