Rindu: Lima Pertanyaan dalam Perjalanan Besar

1459685_4774706701194_1562698192215062389_n

Judul: Rindu

Penulis: Tere Liye

Editor: Andriyati

Cover: EMTE

Lay Out: Alfian

Penerbit: Republika

ISBN: 978-602-8997-90-4

1 Desember 1938 bertepatan dengan 9 Syawal 1357 H sebuah kapal besar bernama Blitar Holland merapat di Pelabuhan Makassar. Dari sinilah perjalanan besar akan dimulai. Perjalanan haji yang memakan waktu lama.

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj: 27)

Daeng Andipati bersama istri dan kedua anaknya Anna dan Elsa; Bonda Upe dan suaminya; ulama mahsyur yang sangat dihormati pada zaman itu, Gurutta Ahmad Karaeng dan tak ketinggalan sang kelasi yang baru direkrut, Ambo Uleng memulai perjalanan dari Makassar. Tiba di Semarang kita akan menemukan dua pasangan paling romantis yang membuat seluruh penumpang kapal iri, Mbah Kakung dan Mbah Putri yang ditemani putri sulungnya. Lima ini yang akan menjadi pemeran utama dalam novel. Lima tokoh dengan lima pertanyaan besarnya.

Ini kisah tentang perjalanan. Dan sebagaimana lazimnya sebuah perjalanan, selalu disertai dengan pertanyaan-pertanyaan (hlm. 2)

Benarlah kalau dikatakan novel ini lebih rumit dari Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Dengan rute Makassar – Surabaya – Semarang – Batavia – Lampung – Bengkulu – Padang – Banda Aceh – Kolombo – Jeddah. Tiap-tiap perjalanan hingga pemberhentian di pelabuhan menyisakan kisah-kisah tersendiri. Konflik-konflikpun tak jarang terjadi cukup menegangkan. Dan seiring perjalanannya, pertanyaan-pertanyaan besar itu akan terjawab. Tentang masa lalu yang menyesakkan, kebencian yang teramat dalam, cinta yang sulit dilupakan, rindu yang menggebu hingga kemunafikan dari seseorang yang selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lisan dan tulisannya.

Novel religius ini dibalut dengan sejarah masa lalu, masa sebelum perjuangan lebih tepatnya. Sejarah yang disajikan cukup apik dan tidak kaku. Tak jarang beberapa bahasa Belanda juga masuk di dalamnya, apiknya lagi tak perlu catatan kaki sudah langsung dijelaskan. Contohnya, “Verboden. Hoor je me, he?!” Tidak boleh. Opsir Belanda itu berseru ketus. (hlm. 6) Novel ini juga sarat pesan, tidak menggurui, tapi kita paham ‘amanat’nya.

Menulis adalah salah satu cara menyebarkan pemahaman, (hlm. 501)

Banyak sekali tebaran kutipan-kutipan menarik:

Doa adalah sumber kekuatan yang tidak terbayangkan (hlm. 19)

Luka fisik dengan cepat sembuh, sedangkan pemahaman baik atas setiap kejadian akan selalu menetap. (hlm 53)

Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan. (hlm. 160)

Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.” (hlm. 196-197)

Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua. (hlm. 284)

Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah itu tawa bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka tidak relevan penilaian orang lain. (hlm 313)

Hidup ini akan rumit sekali jika kita sibuk membahas hal yang seandainya begini, seandainya begitu. (hlm 331)

Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli (hlm 471)

Menulis adalah salah satu cara menyebarkan pemahaman, (hlm. 501)

Tak usah khawatir dengan 544 halamannya. Jika kau reguk, kau akan larut di dalamnya. Sejenak kau tertawa, sejenak lagi kau bisa menangis terharu. Untuk kemudian jadi memahami apa itu cinta dan rindu ‘yang sebenarnya’. Ah, tapi perjalanan haji memang slalu dirindukan bukan?

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”  (Qs. Ali Imran: 96)

“Apalah arti memiliki,
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menunutut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Ada satu lagi sajak yang menurut saya menarik,

“Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri.

Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.” (hlm. 316)

Empat bintang untuk novel ini.

Iklan

5 thoughts on “Rindu: Lima Pertanyaan dalam Perjalanan Besar

  1. […] Lantas apa yang saya lakukan? Ini sekaligus juga memberikan sejumput tip bagi teman-teman yang ingin menumbuhkan minat baca. Saya tidak bicara mereka yang memang pada dasarnya suka membaca buku, karena saya yakin tipe suka baca, minat bacanya memang sudah tumbuh dengan sendirinya. Oh ya, ini juga berlaku bagi yang mengaku ingin menjadi penulis ataupun blogger. Karena pada dasarnya, tulisan seseorang akan lebih matang jika dia rajin membaca. Seperti salah satu kutipan di buku Tere Liye yang berjudul Rindu. […]

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s