Izrail Bilang, Ini Ramadhan Terakhirku: Memaknai Ramadhan

Capture

Judul: Izrail Bilang Ini Ramadhan Terakhirku

Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit: Quanta

ISBN: 978-602-02-1468-9

Jangan pernah berpikir bahwa kita masih memiliki jatah hidup untuk merasakan Ramadhan lagi di tahun mendatang. Tidak ada jaminan! Mungkin inilah Ramadhan terakhir dalam hidupmu. (hlm. 13)

Islam memang indah. Dalam setahun kita diberi satu bulan yang berlimpah nikmat. Satu bulan yang begitu istimewa. Penuh rahmat, keberkahan serta ampunan. Ialah Ramadhan. Jika dalam setahun kita terbiasa makan, minum, menuruti segala hawa nafsu. Maka dibulan inilah kesempatan kita untuk memperbaiki dengan belajar menahan hawa nafsu. Pun menahan dari yang halal sekalipun.

Tapi sayangnya, antusias datangnya bulan Ramadhan seringkali tak sebanding dengan persiapan menjalaninya. Kita perlakukan Ramadhan sama seperti bulan-bulan yang lainnya. Hanya menahan makan dan minum saja yang membedakan. Lupa bahwa harusnya lebih banyak ibadah yang bisa kita lakukan di bulan ini. Lupa bahwa umur tak ada yang bisa menjamin dan maut siap siaga kapan saja.

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Buku ini berisi 30 renungan dan inspirasi yang menggugah. 30 renungan yang In sya Allah membantu kita menyambut Ramadhan dengan indah. Mulai dari hari pertama hingga hari kemenangan tiba. Bahasa yang digunakan penulis cukup santai dan tak menggurui.

Kutipan-kutipan favorit yang saya suka di buku ini:

Selamat datang di bumi Allah. Selamat datang di pagelaran sandiwara dunia. Di sini sungguh banyak peran yang bisa diambil. Banyak tugas hidup yang bisa dipilih. Tugas kita diciptakan bukan untuk “menerima” peran, tetapi memilih peran. Menjadi apapun kita, terserah, tetapi satu yang utama. Ya, hanya satu. Bagaimana kita bisa menjadikan peran yang kita pilih itu sebagai media pengabdian terbaik kita kepada Sang Pencipta. Bagaimana agar dengan peran itu kita bisa berkontribusi kepada sebanyak mungkin manusia. (hlm. 154)

CEO ideal adalah seseorang yang mampu menggabungkan semua sifat terbaik yang terdapat dalam diri manusia. (hlm. 160)

Kalau Anda setiap hari sibuk makan minum, pada momentum tertentu hakikat fisik Anda akan menagih untuk diizinkan berpuasa. Kalau Anda setiap saat dikepung oleh maksiat dan kedekatan dengan dosa-dosa, maka hakikat fisik Anda akan menagih untuk diberi kesempatan taqarrub kepada Allah. (hlm. 174)

Kita mampu mengalahkan kebakhilan dan menggantinya dengan kerelaan berbagi, mengalahkan sifat egois dan menggantinya dengan kesiapan berkontribusi, mengalahkan hidup yang didasari pada keinginan dan menggantinya dengan hidup yang didasari oleh kebutuhan, memendam individualis dan menggantinya dengan indahnya hidup berjemaah. (hlm. 244)

Semoga kita bisa memaknai Ramadhan dengan sebenar-benarnya dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat 🙂

Iklan

2 thoughts on “Izrail Bilang, Ini Ramadhan Terakhirku: Memaknai Ramadhan

  1. Adeeel ..
    Merindumu. Baru pulang dari pengabdian nih.
    Jauh sekali dari peradaban 😦

    BTW, aku belum ( sempat ) baca buku yang ini. Terimakasih reviewnya.
    Menginspirasi !

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s