The Cup of Tea Cinta Buta: Salah Jika Cinta Itu Buta

Gambar

Penyusun: Herlina P. Dewi

Cetakan I : Januari 2014

Penerbit: Stiletto Book

ISBN: 978-602-7572-23-2

Bergidik. Itulah kesan pertama saat saya membaca kisah-kisah di dalamnya. Sedahsyat itukah cinta? Sampai-sampai tak bisa membedakan mana yang salah dan benar. Sayang, acapkali para pelakunya memang tak melihat kebenaran dengan jelas. Namanya juga cinta! Begitulah alibinya. Saya pun pernah mengalaminya! Tak usah diceritakan lagi bagaimana kisahnya. Karena cukup menyakitkan dan cukuplah si pemberi buku ini yang mengetahuinya hehe.

Lewat secangkir teh, kita akan disuguhkan 20 kisah di dalamnya yang saya yakin akan membuat perasaan kalian yang membacanya campur aduk. Kesal, marah, sedih atau kalian akan mengutuk mereka upzh atau bahkan mengutuk diri kalian sendiri yang khususnya sedang merasakan cinta. Kok bodoh banget sih?

Tentang mereka yang katanya rela berkorban, rela menjadi yang ketiga hingga mencintai sesama jenis atau dasar-dasar lain yang mengatasnamakan cinta. Tentang mereka yang kini menyadari dan berhasil lepas dari belenggu cinta yang membutakan mata hati. Ya. Sebab menurutku cinta buta tatkala hati sudah tak digunakan dan mengutamakan nafsu belaka.

Psst.. ada satu kutipan yang paling saya suka dari buku ini:

Cinta itu buta kalau kita tak bisa melihat dunia secara berimbang. Cinta itu buta saat kita hanya memikirkan kesenangan sesaat tanpa memikirkan masa depan. Dan percaya satu hal, cinta itu memang buta, kalau kita memang menutup mata hati dari ketidakberesan yang sesungguhnya sudah mengganggu sejak awal. Jangan kesampingkan perasaan tidak nyaman yang muncul sejak awal karena bisa jadi itu adalah petunjuk yang bisa menyelamatkan kita dari kebutaan itu.

Saya ingin menyampaikan satu kutipan yang bagus tentang blind love ini:

Cinta tidak buta, tapi menerima.

Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik, namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin diperbaiki.

Yang pasti, mencintalah karena Tuhanmu. Maka tak kan kau temui kebutaan di dalamnya. Bintang tiga untuk buku ini!

Iklan

4 thoughts on “The Cup of Tea Cinta Buta: Salah Jika Cinta Itu Buta

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s