Blog Buku dan Objektivitas Resensi

Semenjak kecintaan saya pada buku dan blog tahun 2012 meningkat, saya punya niat membagikan kisah dari setiap buku yang saya baca. Benar-benar niatnya hanya ingin membagi pada banyak orang tentang manfaat isi buku-buku yang saya baca. Belum tahu apa namanya, yang jelas saya hanya ingin bercerita.

Menginjak tahun 2013, tepatnya bulan Oktober, saya dipertemukan dengan salah satu blog buku yang mengadakan lomba meresensi buku. Dari situlah saya mulai mencari tahu apa itu resensi. Oh ternyata resensi itu memberikan informasi tentang buku, menceritakan kembali isi buku dalam bentuk. Bukan membocorkannya, melainkan review singkat tentang buku yang selebihnya pendapat pribadi tentang isi buku tersebut. Melihat contoh-contoh resensi seperti apa. Plus bagaimana caranya meresensi yang baik.

Bisa saya ambil kesimpulan bahwa ada dua benang merah dalam resensi. Tidak membocorkan dan membuat para pembaca resensi penasaran dengan buku tersebut. Hingga jadilah niat bulat saya membuat blog buku ini seperti sekarang.

Tapi masih ada satu hal yang saya kurang paham. Saya bingung bagaimana meresensi yang katanya harus objektif. Yang harus menyertai kelemahan, tak semata memberi kelebihan. Saat lomba resensi yang pernah saya ikuti, sempat saya ditegur oleh penyelenggara karena belum menyantumkan kelemahan. Kelemahan? Buku sebagus ini, kelemahan apa yang harus disampaikan. Jujur, waktu itu saya bingung sekali. Selama ini saya jarang atau bahkan tidak pernah fokus pada kelemahan buku. Sekalipun hal itu sebenarnya bisa terlihat, tapi saya lebih fokus pada isi bukunya. Kalau isi menarik, ya sudah. Mau apalagi? Kecuali jika isi mengecewakan, baru itu yang saya nilai. Soal cover, dan lain-lainnya luput dari penglihatan saya.

Bulan Februari kemarin, saya kopdar dengan teman-teman Komunitas Bisa Menulis. Dimana salah satu pembahasannya tentang resensi. Kurang lebih guru saya bilang, “Baiknya tidak menyantumkan kelemahan buku pada khalayak. Terlebih jika buku itu baru terbit. Disadari atau tidak, ini bisa berpengaruh pada penjualan buku si penulis. Kasihan kan, masa baru terbit udah dibeberkan kelemahannya. Ada baiknya, kelemahan itu disampaikan pada penulis atau penerbitnya langsung.”

Dan hal di atas pernah saya alami. Sempat saya baca salah satu resensi buku penulis terkenal. Awalnya saya ingin sekali membeli bukunya. Tapi setelah saya baca resensi – si peresensi, ia sukses membuat saya enggan membeli bukunya. Memang, ia masih menyantumkan beberapa kelebihan. Tapi sayang, sebagian besar yang diceritakan justru segala kelemahannya. Dan itu membuat saya hilang nafsu untuk membelinya!

Maka benarlah apa yang guru saya bilang. Ada baiknya kelemahan itu disampaikan langsung pada penulis atau penerbitnya langsung. Sekalipun mungkin si penulis berbaik hati menerima kritik dan saran. Ya, sekaligus menghargai keberhasilan si penulis menerbitkan buku. Lagi pula, menurut saya dengan memberikan kelemahan buku, justru resensi menjadi subjektivitas. Layaknya kelebihan, kelemahan pun tak semua orang menyetujuinya. Bisa saja, kita berkata kurang, tapi bagi yang lain mungkin saja malah suka dengan buku tersebut. Bijaknya, kalaupun memang masih ada kelemahan maka sampaikanlah dengan bijak. Jangan sampai malah terkesan menjelek-jelekkan buku tersebut. Bagaimanapun buku diterbitkan (terlebih mayor) pastilah sudah banyak pertimbangan matang sebelumnya. Menerbitkan buku itu nggak murah lho. Apalagi dalam jumlah banyak 🙂

Semoga dengan bijaknya resensi, membuat masyarakat kita lebih banyak informasi tentang buku-buku tanpa merasa buku tersebut ‘tidak berguna’. Percayalah, bahwa tak ada satupun buku tak berguna. Bagaimanapun pasti tereselip manfaat. Ah, rasanya tidak mungkin buku-buku tidak bermanfaat layak diterbitkan.

Semoga buku-buku di rumah kita juga tak sekadar menjadi tumpukkan tak berguna. Melainkan apa yang sudah dibaca bisa menyerap manfaatnya pada diri dan hati kita. Aamiin.

Iklan

16 thoughts on “Blog Buku dan Objektivitas Resensi

  1. Saya jg suka nulis resensi buku2 yg sdh saya baca mbak, terutama yg saya anggap keren. Yaa seneng aja kalo ada yg tertarik baca juga setelah baca resensi, jadi buku yg keren itu bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Soalnya tak jarang pula saya tergerak utk membaca suatu buku gara2 kepincut resensinya. Hehe 🙂

  2. Setuju banget sama gagasannya untuk objektifitas resensi mbak. Bisa saja penulis di depan pembaca bisa menerima kritik, ga tau di belakangnya kyk gimana. 😀

  3. kalo aku tetep kasih kekurangan buku di resensi itu. terutama karena biasanya pembaca melihat hanya sisi positifnya aja. setelah dibaca ternyata ada adegan “dewasa”. duh, ga banget kan? kasian yang kecele liat resensi yang terlalu mendewakan buku itu. gimana pun, pembaca apalagi kalo segmennya remaja tentu punya batasan2 gimana biar buku itu tetap aman dibaca mereka. aku kemarin liat ada 5 anak remaja di angkot. dua diantaranya pinjem buku di rental, dan salah satunya ternyata ada yang covernya ehm, you can see. dan who knows, buku yang dia pegang salah isi, bisa berabe, mba. itu yang jadi pertimbanganku sih.

    • Nah itu dia. Mungkin positifnya ngasih kekurangan itu. Tapi pengemasannya tetep harus sopan. Tulisan inipun bukan berarti mengajak untuk ‘mebagus-baguskan’ buku. Setiap resensi tentunya ada pendapat personal. Nah pendapat itulah yang bisa lebih dikemas. Pssst tulisan ini kubuat krn habis baca resensi seseorang dan dia sukses membuat aku ga jadi beli bukunya.hehe. So, tinggal pengemasannya aja 🙂

  4. Iya, saya juga pernah baca resensi seseorang yg bikin saya mules sendiri. Gimana dengan penulisnya tuh yaa hihihi… asli pedes banget. Klo saya sih sedang belajar bikin resensi, jadi ya masih banyak kekurangannya. Yg penting saya hepi dulu baca bukunya, baru habis itu bisa bikin resensi yg ‘ala saya’ gitu 🙂

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s