Berjuta Rasanya: Bikin Senyum-Senyum Sendiri

Gambar

Judul Buku: Berjuta Rasanya

Penulis: Tere Liye

Tahun Terbit: Cetakan I, Mei 2012

Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)

ISBN: 978-602-9474-03-9

Tebal Buku: VI+205 hal.

Blurb: 

Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

Semoga pemahaman baik itu datang. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederhana apa pun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik.

Bagaimana blurbnya? Manis sekali bukan? Saya saja sampai senyum-senyum sendiri bacanya. Aiih padahal ini kan bukan buku humor. Ini buku tentang hati. Hati yang hanya ada satu di setiap manusia. Hati yang satu yang punya berjuta rasa. Kecewa, sedih, bahagia. Pun sudah jelas dengan apa yang dibahas di sini. Cinta!

Ah, saya selalu jatuh cinta dengan cara Tere Liye menulis. Semenjak mengenal beliau lewat fanspage di facebook, entah kenapa ada getaran tersendiri dalam setiap tulisannya. Seringkali saya dibuat jleb jleb jleb. Bluk bluk bluk. Cara menulis beliau -menurut saya- bisa dibilang ‘tanpa tedeng aling-aling’. Tanpa basa-basi. Langsung sampai pada inti. And I like it! Ya saya suka dengan cara seperti itu.

Semenjak tahu itulah saya jadi penasaran dengan buku-buku beliau. Dan buku ini salah satunya. Yang berhasil saya dapatkan dari seorang teman blogger dari kuis singkatnya hehehe. Tanpa pikir panjang. Dari sekian buku yang ada, saya langsung memilih buku ini. Sebenarnya ada satu lagi, Sunset Bersama Rosie. Tapi saya lebih memilih buku ini. Alhamdulillah emang rezeki saya, akhirnya dapat juga secara cuma-cuma hihihi 😀

Ada 15 kisah dalam buku ini. Sesuai blurb nya, tentu saja isinya tentang seseorang yang memendam cinta. Berbagai alasan, mulai dari tidak PD dengan diri sendiri, malu untuk mengungkapkan, naif untuk menyatakan, dan lain-lain yang sungguh aduhai suwer bikin saya senyum-senyum sendiri bacanya. Mungkin karena jadi ingat dengan diri sendiri *upzh :D*

Tapi berbicara tentang cinta, kemana makna cinta itu sendiri saat ini. Cinta yang deg-degan setiap bertemu, malu-malu untuk menatap orangnya, salah tingkah setiap kali bertemu. Entahlah. Rasanya makna cinta sudah bergeser. Cinta sudah bukan lagi ‘barang yang indah’. Bahkan sudah tak sulit untuk diungkapkan. Peran zaman dan teknologi pun mungkin ikut mempengaruhi.

Sayang sekali memang. Sayang sekali jika cinta hanya diartikan, pertama bertemu tek gue jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Kenalan, setelah kenal berlanjut hingga pacaran. Lalu apa makna cinta yang sebenarnya. Kemana cinta yang katanya indah itu. Maka, bacalah buku ini, maka kau akan menemukan keanggunannya. Meski bukan cinta islami, tapi buku ini tidak mengulas cinta yang kotor. Cinta yang murahan atau cinta yang gampangan. Jleb.

Beberapa kutipan yang saya suka di buku ini:

Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk. (hlm. 26)

Kehidupan ini tak selalu memberikan kita pilihan terbaik. Terkadang yang tersisa hanya pilihan-pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegangan pada pilihan kedua yang terbaik, selalu berpegangan pada pilihan kedua yang terbaik… Melupakan pertama yang tak pernah bisa kau capai.. (hlm. 87-88)

Rasa sakit hati itu indah. Setidaknya patah-hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Lagi pula siapa bilang ditolak cinta itu tidak indah? Itu indah, Bung! Pikirkanlah dari sudut yang berbeda! (hlm. 132)

Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat. Cinta sejati selalu datang pada orang-orang yang berharap berjumpa padanya dan tak pernah berputus asa. (hlm. 184)

Kalian sama sekali tidak memerlukan mata untuk memandang cinta sejatimu. Tidak memerlukan kelopak mata untuk mengenalinya. Ia selalu datang, tak pernah tersesat. (hlm 190)

Mungkin kutipan di atas sekaligus pesan dari buku ini pula. Ah, mungkin kalau kau baca kau suka kutipan-kutipan yang lain.

Oke. Saya akan beri bintang empat untuk buku ini.

Pssstt.. berharap baca serial keduanya, Sepotong Hati Yang Baru. Wish. Semoga dapet. Aamiin ^_^

Iklan

7 thoughts on “Berjuta Rasanya: Bikin Senyum-Senyum Sendiri

  1. Wah, jadi penasaran. Buku ini bukan novel ya Mba Ade. Seperti kumpulan cerpen begitu? Yang Sunset Bersama Rossi juga keren lho, Tips dari saya siapin tissu sekotak, hehehe.

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s