Don’t Judge A Book By Its Cover

Dulu saat zaman sekolah saya termasuk penggemar buku-buku murah. Ya maklum, mungkin karena masih pelajar juga hehe. Bahkan saya pernah membeli beberapa buku saku yang harganya empat ribuan. Etz meski harganya segitu murah, tapi saya bisa bilang buku-buku itu bagus. Sayang saja saat ini sudah tidak dicetak lagi huhu. Selera saya dulupun bisa dibilang mengalir. Pokoknya asal covernya menarik, judulnya menggoda, dan harganya murah tentunya, pasti saya beli. Tak peduli penulisnya siapa, best seller atau tidak.

Namun semua itu berubah semenjak kakak kedua saya beli novel Ayat-ayat Cinta. Beliau bilang gini, “Nih liat bukunya bagus. Liat dong tulisannya aja Best Seller.” Ck. Saat itu saya belum mengerti apa itu best seller. Setelah dijelaskan, barulah saya mengerti. Oh ternyata best seller itu buku yang paling laku, paling banyak orang beli, paling banyak orang baca dan bagusnya sudah pasti. Dan entahlah. Semenjak itu selera saya jadi berubah. Karena akhirnya saya tahu best seller itu apa, saya jadi nggak sembarang lagi beli buku. Tapi juga bukan berarti best seller selalu menjadi pegangan saya dalam beli buku, masih ada pertimbangan lainnya:

1. Saya tahu penulisnya

Yaph, kalau saya sudah tahu penulisnya siapa, terlebih jika penulis sudah tak diragukan lagi buku-bukunya, maka biasanya tanpa pikir panjang saya akan beli.

2. Rekomendasi teman

Karena mungkin saya termasuk orang auditori. Orang auditori itu biasanya dia lebih percaya pada omongan orang. Jadi kalo beli apa-apa biasanya dia ngajak temen, “eh ini bagus nggak.” Atau “Bagusan yang ini atau ini.” Karena auditori itulah saya sering ‘termakan’ omongan temen hehe. Misalnya, “Eh buku ini bagus lho.” Apalagi kalo banyak yang bilang bukunya bagus, pasti saya beli -_-

3. Saya memang butuh

Kalo ini sih nggak usah ditanya lagi. Tentulah kebutuhan dengan keinginan beda. Kalo saya emang butuh pasti saya beli. Tapi tetep saya nyari yang terbaik hehe

Dari ketiga pertimbangan itu, terkadang saya tidak peduli mau covernya nggak begitu bagus juga. Pokoknya asal sudah memenuhi kriteria di atas maka saya akan beli.

Nah, ketika jalan-jalan di IBF (Islamic Book Fair) kemarin saya jadi mikir. Kok kayaknya gue sombong banget ya.  Iya saya jadi mikir, kalo suatu saat saya udah nerbitin buku *ceileee* apa ada yang mau beli buku saya. Saya ini kan bukan orang terkenal, hanya orang biasa. Apalagi kalo itu jadi buku pertama saya. Sedihnya kalo buku saya bisa saja masuk daftar buku obralan. Iya, waktu hari terakhir saya kesana, ‘buku-buku yang kurang laku’ *aduh maaf saya nggak menemukan bahasa halusnya* masuk daftar obralan gila-gilaan. Belum lagi kadang gramedia juga suka mengadakan obralan buku. Katanya ya itu tadi, karena buku-buku itu kurang diminati, jadinya masuk daftar obralan. Hiks.

Tapi saya jadi menyadari, bahwa mereka yang akhirnya bisa menerbitkan buku, mereka termasuk orang yang hebat. Sekalipun belum dikenal,atau bukunya belum tentu diminati, tapi pada akhirnya penerbitlah yang menilai. Ya iyalah. Sedikit tahu, bahwa untuk menerbitkan buku di penerbit mayor itu nggak murah. Berarti mereka hebat kan. Sampe bisa bikin penerbit-penerbit mayor itu mau menerbitkan tulisannya menjadi buku yang dicetak dalam jumlah banyak. Hmm.. saya juga jadi ‘maklumin’ kalo mereka getol promosi bukunya. Usaha mereka memang patut diacungi jempol. Tidak hanya mengandalkan promosi dari penerbit, tapi mereka berinisiatif sendiri. Mantaplah.

Yaph. Sekarang minimal saya tidak akan lagi ‘meremehkan’ buku-buku yang tidak ada tulisan best sellernya. Paling tidak, saya bisa menghargai dan mengacung jempol untuk mereka yang bisa punya buku sendiri. So, dont judge a book by its cover deh 😉

Pssst…harusnya hari ini saya nulis Wishful Wednesday, tapi kayaknya saya belum punya keinginan untuk memiliki buku apa-apa hehe

Iklan

4 thoughts on “Don’t Judge A Book By Its Cover

  1. Setuju nih. Kebetulan saya justru kalau beli buku best seller malah kurang puas dengan isinya. Beberapa kali beli buku non-best seller, lebih menarik malah beberapa waktu kemudian jadi best-seller
    😀

  2. Setuju… mungkin saja buku yang ‘katanya’ tidak terkenal itu penuh isi. Dan bagaimana mungkin sebuah buku bisa jadi dikenal kalau tidak ada yang mau mengenali 🙂

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s