Generasi Penipu: Pendampingan dalam Berinternet Anak

Gambar

Judul buku : Generasi Penipu
Penulis : Sinyo
Tahun Terbit : 2014
Penerbit : Qibla
Tebal Buku : 70 Halaman

Harusnya saya punya buku ini saat saya sedang mencari referensi untuk presentasi Character Building nih. Karena memang tema yang saya ambil adalah dampak teknologi pada anak. Sang dosen yang akhirnya menginspirasi saya untuk mengambil tema itu. Saya pikir, iya juga ya. Teknologi sekarang kan sudah canggih banget. Mulai dari anak-anak sampai orang tua semua sudah ‘ketergantungan’ dengan yang namanya teknologi. Mulai dari gadget sampai internet. Kenapa harus ambil dampak dari anak-anak? Ya karena anak-anak masih suci, polos, jadi pertumbuhan mereka sebagian besar berasal dari lingkungan. Sayangnya, sekalipun teknologi kian canggih, tapi tidak semua membawa dampak positif. Malah saat saya melakukan observasi lapangan, lebih banyak negatifnya 😦 Semacam teknologi membawa candu tersendiri yang pada akhirnya  membuat sebagian besar anak menjadi penyendiri alias asyik dengan kegiatannya sendiri. Bagi yang lahir tahun 90an pasti kita masih merasakan yang namanya main petak umpet, kelereng, layang-layang, dll yang bersifat lapangan dan kelompok. Tapi sekarang, anak-anak cenderung lebih banyak depan komputer atau gadgetnya. So jadi kurang deh sosialisasinya 😦

Lalu kenapa juga saya bilang harusnya punya buku ini? Karena buku ini akan membantu saya untuk menambah bahan dalam makalah dan presentasi saya hehe. Upzh bukan hanya itu, khususnya buku ini berguna bagi para orang tua untuk mengenal lebih dalam tentang internet dan melakukan pendampingan yang positif terhadap anak dalam berinternet bijak. Mulai dari dikenalkan dengan pengertian internet, sejarahnya, hingga dampak-dampak dari internet itu sendiri bagi anak-anak dan solusinya bagi para orang tua.

Salah satu dampak terbesar yang diulas buku ini tentulah sesuai judulnya Generasi Penipu. Orang tua yang kurang bijak, melarang anak untuk tidak mengakses internet membawa anak berujung pada ketidak puasan hingga akhirnya anak mulai berani berbohong. Atau jika akses internet anak tidak didampingi orang tua, maka anak dengan bebasnya mengakses situs apapun. Termasuk situs pornografi yang saat ini masih mudah dijumpai 😦 Kecanduan game online juga menjadi diantaranya. Rasa penasaran menyelesaikan game bisa membawa anak pada rasa candu yang ditawarkan. Serta masih banyak yang lainnya. Dari alasan-alasan itulah yang akhirnya membuat anak menjadi takut untuk ‘mengaku’ pada orang tua dan terbiasa untuk berbohong. Huhu miris 😦

So, kesimpulannya orang tua tidak bisa dengan ‘buta’ melarang anak untuk tidak mengakses internet, karena tak bisa dipungkiri saat ini internet sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Belum lagi sebagian besar sekolah juga mulai melibatkan internet untuk proses pembelajarannya. Dengan buku setebal 70 halaman serta bahasa sederhana buku ini, insya Allah orang tua bisa lebih memahami apa yang sebaiknya dilakukan. Salah satunya dengan memberi kebijakan pada anak dengan melakukan pendampingan dan memberi pemahaman yang baik pada anak yang juga dengan menggunakan bahasa yang sekiranya mudah dipahami anak. Lebih bagus lagi buku ini tak sekadar mengulas lewat pandangan umum, namun diperkuat juga dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadits yang sekiranya mendukung. Insya Allah nambah paham deh orang tua 🙂 Semoga teknologi khususnya internet bukan membawa anak menjadi generasi yang negatif, melainkan dengan teknologi anak bisa semakin maju dengan pemikiran-pemikiran positif yang ikut berpengaruh bagi umat dan bangsa 🙂 Aamiin

ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan , ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba , ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok , ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati , ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan , ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi , ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian , ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan , ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan , ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan , ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Revolusi Cara Belajar (Dorothy Law Nolte)

Iklan

3 thoughts on “Generasi Penipu: Pendampingan dalam Berinternet Anak

Thank you for not comment out of topic

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s